Buletin MOB (Media Opini Bicara) : Masihkah Titip Absen ?

buletin logo

Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh.
bismillahirrahmanirrahim..

Istilah titip absen seringkali di dengar pada kegiatan perkuliahan. Titip absen dapat diartikan sebagai pengisian daftar hadir mahasiswa yang tidak mengikuti perkuliahan oleh orang lain. Biasanya titip absen dilakukan atas dasar pertemanan. Kegiatan ini dinilai buruk karena menyembunyikan kebenaran yang ada. Berbagai hal sepele bisa dijadikan sebagai alasan dilakukannya tindakan ini seperti malas kuliah, ada acara lain atau terpengaruh oleh ajakan teman. Jika tindakan ini sering dilakukan maka tentu akan menjadi kebiasaan atau bahkan perilaku.

Sebagai seorang pelajar muslim, kita hendaknya menghindari perilaku seperti ini. Selain karena merugikan diri sendiri, perilaku ini bagaikan cerminan generasi islam kedepan. Masyarakat tentu akan kecewa jika para pemuda yang menjadi harapan mereka untuk mengembalikan kejayaan islam memiliki perilaku yang buruk saat menimba ilmu.
Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan sebagai mahasiswa muslim berkaitan dengan perilaku titip absen.

1. Menipu
Titip absen sama dengan menipu, mengapa ? Karena titip absen merupakan tindakan memanipulasi tanda tangan untuk mengingkari kebenaran yang ada yaitu ketidakhadiran mahasiswa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda “Dan barang siapa menipu kami, maka dia bukanlah termasuk golongan kami” (HR.Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan, suatu ketika Rasulullah saw lewat pada setumpukan makanan, lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalam makanan itu. Tangan beliau menemukkan kelembaban (kebasahan), beliau bertanya: “Apa ini hai pemilik makanan?” Pemilik makanan menjawab:”Terkena hujan wahai Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda: “Mengapa tidak kamuletakkan di atas makanan, sehingga orang-orang mengetahuinya. Barang siapa berbuat curang kepada kami, maka bukanlah termasuk golongan kami”

Dalam konteks titip absen, ada dua pihak yang merasa dirugikan ketika mahasiswa melakukan titip absen. Yang pertama adalah dosen. Kerugian yang dialami oleh dosen yaitu penilaiannya terhadap indeks prestasi si pelaku titip absen menjadi tidak objektif. Hal itu karena kehadiran mahasiswa termasuk dalam persentase penilaian. Lalu yang kedua si pelaku. Dia juga merugi karena tidak mendapatkan ilmu secara langsung dari dosen sehingga dikemudian hari akan merasa kesulitan jika belajar.

2. Menjerumuskan orang lain
“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?” (Qs. Al-Mumin: 41)
“…karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” ( Qs. Fatir : 4)

Kegiatan titip absen pasti membutuhkan perantara untuk mengisi presentasi. mahasiswa yang berkeinginan bolos kuliah biasanya menghubungi teman yang mengikuti kuliah. Lalu ia akan meminta kepada temannya itu agar kehadirannya diisi dengan tanda tangan palsu dengan mengatasnamakan persahabatan sebagai bujukan. Bujukan ini sebenarnya adalah penjerumusan orang lain untuk melakukan tindakan yang dibenci Allah swt. Artinya mahasiswa itu mengajak temannya untuk bersama-sama menipu. Astagfirullah..

3. Mengingkari nikmat
” karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah : 152)
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7). [rki]

Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Mari kita interpretasikan ayat-ayat Alquran di atas dengan perilaku titip absen.

Apakah mahasiswa yang melakukan titip absen dapat dikatakan bersyukur ? Jawabannya tentu tidak. Ada nikmat yang diingkari olehnya, yaitu kenikmatan menuntut ilmu sampai jenjang perguruan tinggi yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Mungkin memang dampaknya tidak akan langsung dirasakan, tapi Allah Swt telah menggambarkan konsekuensinya jika mereka (atau mungkin kita) mengingkari nikmatNya.

Dari pemahaman diatas, kita telah mengetahui keburukan apa saja yang ada ketika seorang mahasiswa melakukan titip absen. Menipu, menjerumuskan orang lain kepada keburukan dan meningkari nikmat-Nya adalah hal-hal yang sangat dibenci Allah SWT. Sebab itu, agar kehidupan tetap berada dalam kasih sayang Allah SWT dan tetap istiqamah dalam kebaikan, tetapkanlah kesadaran untuk melakukan beberapa hal yang terangkum dalam rumus 3 M. Yaitu Muhasabah, Muraqabah dan Mujahadah

1. Muhasabah (introspeksi diri)
Seorang muslim seharusnya sangat menyadari, bahwa apapun yang di lakukannya kelak akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Hari ini baik, besok bisa sangat baik. Atau hari ini sangat baik, besok mungkin saja sangat tidak baik.

Disinilah perlunya kita introspeksi diri (muhasabah), agar kebaikan tetap bisa kita pertahankan. Sebab kita tak pernah tahu kapan kita akan di matikan. Hidup dan mati kita Allah lah yang mengatur, yang kita tahu adalah bahwa setiap kita pasti mati.

√ Hal senada pernah di ungkapkan oleh Umar bin Khatab:

“Hisablah dirimu sebelum di hisab, timbanglah diri kalian sebelum di timbang. sesungguhnya berintrospeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari.” (Diriwayatkan dari imam Ahmad dan at-Tarmidzi secara mauquq dari Umar bin Khatab).

2. Muraqabah (selalu merasa di awasi Allah)

Orang yang sadar bahwa Allah selalu mengawasi hidupnya. maka ia akan terbentengi dari kesalahan dan dosa. Rasa Khauf (takut) selalu menyelimutinya bila ia melakukan kesalahan. Khauf (rasa takut) akan membakar syahwat yang di haramkan Allah. sehingga kemaksiatan yang dulu di sukai jadi di benci.Ia menyadari betul tentang firman Allah SWT di bawah ini:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dengan urat lehernya. yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya. satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang di ucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 16-18)

3. Mujahadah (adanya kesungguhan dalam beribadah)

Pelajar yang menuntut ilmu adalah sebuah ibadah. Ibadah adalah alasan Allah menciptakan manusia. Karena untuk itulah kita hidup dan di hidupkan.
Bermujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan dalam rangka menjemput keridhaan Allah. Hingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan, bukan sebuah beban yang memberatkan.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS al-Ankabut:69)

Dengan melakukan rumus 3 M di atas, In Shaa Allah nilai kehidupan yang kita jalani akan semakin berarti. sebab dengan Muhasabah kita selalu memperbaiki segala yang salah. Dengan Muraqabah kita selalu merasakan keagungan Allah. Dan dengan Mujahadah kehidupan kita akan selalu di permudah. In Shaa Allah.

Lalu,setelah semuanya kita ketahui, masihkah titip absen ?

Tinggalkan Balasan