Buletin MOB (Media Opini Bicara): Di Balik Kata Mahasiswa

buletin logo

Akhir-akhir ini, kehidupan kampusku bisa dibilang sangat klasikal. Sampai-sampai, semua yang dilakukan layaknya suatu kebiasaan yang tidak membutuhkan otak, yah karena semua itu terjadi secara spontan tanpa otak yang perlu berfikir bagaimana menjalankannya. Bangun subuh, mandi, shalat, makan, berangkat kuliah pukul tujuh, praktikum, lari-larian ke lab, terburu-buru mengejar deadline laporan, pre-lab, dan pulang di sore hari disambung dengan kerja kelompok atau rapat sampai malam kemudian ketiduran setelah sampai di tempat kos. Terbangunkan oleh kokok ayam di pagi hari? Kemudian gelagapan mengejar deadline tugas yang harus dikumpulkan hari itu juga? Tidur di kelas karena terlalu capai alasannya, bertumpuk-tumpuk mengerjakan laporan dari sumber yang sama?

Jenuh atau acuh, entahlah mungkin lebih tepatnya rasa terjebak dengan zona nyaman ini. Sampai terkadang di sela-sela lamunan terbersit sebuah pertanyaan, “Apa dan untuk apa sebenarnya semua ini?”

Suatu ketika ditengah lamunanku hp berdering. Sebuah panggilan dari abah tercinta. Ya…suara dan petuah beliau sedikit menghilangkan rasa jenuhku, dan aku cerita paanjang lebar tentang aktivitas kuliah ku, bahkan mengeluh tentang banyak nya deadline laporan. Tiba tiba sebuah pertanyaan dari abah membuat bulu kudukku berdiri, “Apa tujuan Allah menciptakan kita di muka bumi ini nak?” Aku menjawab lirih, “ya untuk beribadah kepada Nya Abah.”

Abah kembali mengulangi pertanyaan dan beliau berkata, “Tidak diciptakan seorang manusia kecuali menjadi rahmat untuk seluruh alam.” ‘Rahmatan lil alamin?” asingkah aku dengan istilah itu? Tidak sama sekali seharusnya karena begitulah sepatutnya seorang muslim layaknya seorang Muhammad yang berjuang menjadi rahmat seluruh alam selama hidupnya.

Lalu apa yang salah dengan hati ini? Kenapa tiba-tiba hati berdesir? Tahukah kawan arti dibalik istilah “Rahmatan lil alamin?” Rahmatan lil alamin berarti menjadikan kita sebagai seorang yang dinanti-nanti perkataan dan perbuatannya, ditunggu nasihatnya, dirindukan kehadirannya, didengarkan nasihatnya. Seseorang yang membawa rahmat, kebaikan, dan kasih sayang untuk orang lain. Di mana tidak ada yang sedih apabila ada kita, di mana tidak ada yang kelaparan selagi ada kita.

Bulu kudukku merinding. Betapa masih jauhnya diri ini dari kriteria tersebut. Apakah dengan kehadiran kita orang lain menjadi bahagia? Atau biasa saja? Atau malah sebaliknya mereka menjadi terganggu? Jawabannya cukup di hati yang tahu segalanya.

Tamparan pertama ternyata tidak cukup untukku. Kembali Abah bertanya, “Kamu tahu Nak, kenapa Allah menakdirkanmu di fakultas Pertanian UGM dan bukan yang lain?” Kenapa memang inilah jalan yang ditakdirkan, karena memang inilah ladang yang Allah sediakan untuk mu agar menjadi manusia yang Rahmatan lil Alamin. “Ketika kamu harus menjalani sesuatu yang bukan pilihanmu, maka jangan protes dan mengeluh. Jalani, syukuri, dan kenali lebih jauh karena itulah jalan terbaik untukmu, agar kamu menjadi lebih baik dan agar kamu tidak tersiksa dua kali.” Allah punya caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu pada hambaNya, aku lagi-lagi mengangguk, meresapi nasihat yang sangat pas rasanya untukku saat ini.

Abah kembali meneruskan petuahnya. Ternyata jurus-jurus tadi belum cukup, kembali Abah berkata, sekarang pertanyaan yang tidak hanya menampar tetapi menusuk ke hati, dalam sekali sampai membuatku nyeri. “Kamu tahu apa itu mahasiswa kan Nak?”. Betapa beratnya arti kata ini. Mahasiswa berarti derajat paling tinggi untuk seorang siswa, banyak amanah yang sebenarnya harus diemban. “Kalau bukan karena pajak, mungkin hanya sedikit yang bisa jadi mahasiswa. Pajak dari mulai orang yang berkedudukan tinggi sampai para petani seperti abah. Ingat Nak, setiap tingkah lakumu di sana, di kampus UGM mu berbicara mengenai uang rakyat. Tidak pantas kamu takabur dan sombong karena setiap pengajaran yang kamu dapat, ilmu yang kamu nikmati, fasilitas yang kamu gunakan adalah jerih payah orang lain yang bahkan mungkin tidak seberuntung kamu”.Nyeri banget ini hati, mendesir dan berdenyut-denyut tidak karuan.

Pesan Abah yang terakhir “Berlaku jujurlah Nak, dimanapun kamu berada, karena kejujuran itu mulia. Jujurlah walau pahit. Sabarlah dalam menuntut ilmu dan kelak kau akan merasakan manisnya jerih payahmu”. Dan tanpa disadari air mataku menetes membasahi pipi.

Aku masih ragu, bikin laporan aja masih nyontek master, nyontek temen, berat sekali rasanya untuk hanya sekedar berjanji jujur. Tidak untuk sang Abah, tapi untuk diri sendiri. . .Seusai telepon, petuah-petuah tadi memenuhi kepalaku, antara merasa sedih, takut, bersalah, dan hina… well, terbukti bahwa kata “mahasiswa” tidak hanya sebuah title yang bisa dengan bangga disandang. Mari beristighfar, dan mulai membiasakan jujur (*_*)

Tinggalkan Balasan