Buletin MOB (Media Opini Bicara) : Kantin Kejujuran

Supriman, Sudirman, Sukijan, Yak!
Bakwan, Yak!
Tahu Bakso, Yak!
Risol mayo, Yak! Yak! Yak!

Hahaha, serunya berjualan di kampus..
Sebagai mahasiswa atau sering disebut juga anak kost, pastilah istilah “kanker” sering menghadang di akhir bulan.
Sebagai mahasiswa atau yang sering disebut juga panitia, pastilah istilah “danus” sering mengoar sebelum terlaksananya kegiatan.

Solusi termudah dan terdekat untuk permasalahan yang mainstream tersebut yaa tentunya berjualan. Salah satu opsi berjualan bagi mahasiswa yang hari-harinya disibukkan dengan kuliah dan praktikum adalah Kantin Kejujuran. Why? Karena berjualan di kantin kejujuran dapat dilakukan saat mahasiswa tidak punya waktu untuk mencari “secercah harapan dompet”. Pagi-pagi kulakan, menata makanan / minuman dengan rapi, menyediakan tempat uang, meletakkan barang dagangan di rak jualan, kuliah, kuliah, kuliah, praktikum, sore-sore uang sudah memenuhi money box. Seruu kan?

Ah apa iya seru?
Di dunia ini, roda kehidupan selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Ya seperti keuntungan dalam usaha di kantin kejujuran, kadang untung kadang rugi.
Semua orang juga tahu, kalau ada orang berjualan pasti mencari keuntungan. Lalu bagaimana jika usaha dari pagi sampai sore tadi malah menghasilkan suatu kerugian? Karena kenyataannya tidak sedikit mahasiswa mengalami kerugian saat berjualan di kantin kejujuran. Loh, kok bisa?
Ini penyebabnya:
1. Pembeli kurang memperhatikan harga barang yang dijual, sehingga membayar dengan jumlah uang yang tidak pas –kurang–
2. Pembeli tidak tahu mana tempat uang untuk barang tersebut. Bisa saja pembeli salah memasukkan uang ke money box milik orang lain
3. Pembeli lupa membayar (nah ini yang parah)
4. Pembeli sengaja lupa membayar (ini nih, iya ini, yang sering bikin su’udzon)

Sebenarnya, berbisnis di kantin kejujuran bukanlah usaha yang tanpa resiko. Kadang-kadang, memang, kejujuran belum dapat ditanamkan pada orang yang “kepepet”. Sebagai sesama mahasiswa, baik anak kost maupun anak rumahan, pasti paham betul bagaimana rasanya jika dompet semakin menipis. Tapi apa iya ketidakjujuran itu dibenarkan?
Lalu, apa ada penjual yang memiliki keuntungan lebih dari keuntungan yang sudah diperhitungkan dari awal? Ada! Lalu, apakah seorang penjual itu merasa beruntung atau bersedih? Apakah itu keuntungan yang halal?

Mulai sadar dari diri sendiri saja. Sesuatu yang kita ambil, yang tidak baik akan merugikan orang lain. Sadarkah mengambil barang dagangan milik orang tanpa membayar sama dengan mencuri? Sadarkan bahwa perbuatan mencuri itu bukan perbuatan yang dicintai Allah? “Laki-laki yang mencuri, dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan (keduanya) sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (surat Al-Maaidah ayat 38). Hiii serem ya. Bersyukurlah jika sang penjual mengikhlaskan barang itu. Namun jika tidak? Tidak sadarkah bahwa mencuri adalah perbuatan dosa? Namun sejatinya Allah bukanlah maha pendengki, bukanlah maha pendendam. “Maka sesiapa yang bertaubat sesudah ia melakukan kejahatan (curi) itu dan memperbaiki amal usahanya, sesungguhnya Allah menerima taubatnya, karena Allah maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani” (surat Al Maidah ayat 39).
Lalu, apakah harus menunggu berbuat kesalahan lalu bertaubat? Sesungguhnya Allah memang maha pemaaf. Namun, yang lebih baik dari semua itu adalah pembiasaan berlaku jujur. Tidak hanya dalam hal jual-beli –kita sebagai mahasiswa seharusnya sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk di mata Allah-

Ayoo semangat jujur, untuk kehidupan yang lebih barokah!

Tinggalkan Balasan